Lembut
katanya, merdu suaranya jika menangis. Terlihat
manis ketika tersenyum di depan camera, bak madu asli di Kota Jantho. 3,
5 (tiga tahun setengah) telah bersama dengannya. Kulewati hari dengannya baik
sedih ataupun senang. Terlalu banyak kata yang ingin kutuliskan tentangnya.
Namun, jari-jari tangannku terasa panek dalam bahasa Aceh Selatan dan penat dalam bahasa Indonesia.
Choki-choki,
si coklat manis ini mengidap penyakit PTT yang menurut diagnosa aku sudah
memasuki stadium empat. Walaupun sudah kucoba mengobatinya namun aku tak mampu,
bahkan juga mereka. Setelah kutelusuri lebih jauh penyakit ini merupakan bawaan
dari kecil dan sangat sulit untuk disembuhkan, aku selalu berharap dan berdo’a
agar ada seseorang yang mampu mengobatinya. Virus PTT itu berpotensi di dalam
setiap tubuh manusia dan berhati-hatilah dengan gejalanya. Sebaiknya cegah ia
sebelum timbul karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Adapun gejalanya
adalah : sering memakai pakaian-pakaian yang cerah, selalu ingin dipuji, merasa diri laksana
bidadari yang turun dari kayangan atau serendah-rendahnya merasa seperti artis
katakanlah “ Anushka Sharma” . Jadi, seperti itulah gejala PTT (pede tingkat tinggi). Jangan terlalu
serius. Hahaha !!
Connect itulah
kata-kata yang pantas kuucapkan jika aku bersama dengannya. Walaupun rupa dan
berat kami berbeda namun, tak jarang ideologi kami sama contohnya : ketika kami
berjalan-jalan ke pantai lalu melihat sebuah pasangan kekasih yang begitu
mesra, kami berdua menatap dari kejauhan dengan memandang satu objek yang sama,
dan langsung menarik bibir 2 cm secara bersamaan ’ hahahaq... ie teujeut’
itulah spontanitas kata-kata yang keluar ketika kami mendekat. Tak hanya itu,
suatu hari aku mengikuti acara dosen yang diadakan di Museum Tsunami bersamanya
dan dua orang temanku yang lain, sering aku menyebut kawanku itu dek walaupun
mukanya ya seperti orang setengah abad. Tapi, tak mengapa pujian itu
dibutuhkan. Baiklah waktu itu adalah hari terakhir aku menyerahkan tugas final
radio, aku dengannya beralasan bahwa tidak bisa menyerahkan karena sibuk,
padahal aku belum buat sama sekali begitu juga dia dan keempat kawanku yang
lain. Lalu, mendengar hal itu dosen yang bersangkutan mulai luluh hatinya dan
memberi dispensasi sampai jam 08 pagi teng untuk mengantarkan tugas tersebut.
Al hasil malamnya aku dan dia duduk disebuah cafe untuk membuat itu sampai
dengan jam 12 malam. Hmmmp melelahkan !!! Keesokan harinya kami semua datang
terlambat bahkan molor waktu sampai jam 11 siang “ wah !!! parah banget” itulah
yang kami ucapkan berkali-kali. Dan akhirnya sang dosen pun marah dan mengancam
untuk tidak menerima tugas kami dan dipastikan nilai kami C. Mendengar hal itu
aku dan dia langsung bersama-sama mengeluarkan senjata ajaib andalan yaitu “ tears” atau air mata. Karena asyik
berakting akhirnya nangis betul-betulan sampai terisak-isak. Dan dosen itupun
memanggil setiap orang yang lewat untuk menyaksikan tangisan kami “ memalukan”
akhirnya kami lari ke kamar mandi untuk meneruskan tangisan.
Baik
dan salut itu yang tak bisa lepas dari ucapanku, memang tak pernah kujumpai
sebelumnya. Sikap baik yang tanpa pamrih itu membuat aku nyaman dan sering
kuceritakan ia pada keluargaku. Walaupun berat badannya ia adalah sosok yang
ringan tangan dan selalu membantu dalam segala hal, ia selalu mendukung atas
apa yang aku inginkan, begitupun aku. Aku selalu mendukung apa yang ia inginkan
untuk dicapainya. Aku melihat kesetiaan dia pada saat aku ikut lomba nasyid
yang diselenggarakan oleh LDK Ar-Risalah ia rela menemani aku dari latihan
sampai penampilanku selesai, bahkan ia meyakiniku “ kamu pemenangnya, aku yakin
dan qe harus yakin bahwa qe bakal juara adak
han sa meudua ka pasti” dan tak tahunya apa yang ia katakan itu benar
adanya, aku mendapat juara 2 dalam ajang itu.
Hal
lain yang menyamakan aku dengannya dari segi hobby. Aku suka banget lagu india
dan dia juga, tak jarang kami bernyanyi di ruang sampai-sampai membuat
kawan-kawanku yang lain harus menutup telinga saking merdunya suara kami. Aku
juga suka lagu barat tapi, dia lebih suka. Kami sering nyanyi bareng sampai dia
bilang “ ntik malam ke hafal lagu ini ya, biar kita bisa duet” perasaan
penyanyi. Adapun lagu-lagu barat kesukaan kami seperti : Give me a reason,
granede dll. Wow amazing.
Inilah
sepenggal ceritaku bersama si gadis Pidie yang bertempat di Kota Lameu anak Pak
AlBa (Ali Basyah) ia sosok yang sangat mencintai keluarga dan sangat
termotivasi dengan perjuangan ayahnya. Dan aku bangga pernah berkenalan
dengannya, thanks Maya Sari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar