Label

Selasa, 05 November 2013

Twin Ideology



Lembut katanya, merdu suaranya jika menangis. Terlihat  manis ketika tersenyum di depan camera, bak madu asli di Kota Jantho. 3, 5 (tiga tahun setengah) telah bersama dengannya. Kulewati hari dengannya baik sedih ataupun senang. Terlalu banyak kata yang ingin kutuliskan tentangnya. Namun, jari-jari tangannku terasa panek dalam bahasa Aceh Selatan dan penat  dalam bahasa Indonesia.
Choki-choki, si coklat manis ini mengidap penyakit PTT yang menurut diagnosa aku sudah memasuki stadium empat. Walaupun sudah kucoba mengobatinya namun aku tak mampu, bahkan juga mereka. Setelah kutelusuri lebih jauh penyakit ini merupakan bawaan dari kecil dan sangat sulit untuk disembuhkan, aku selalu berharap dan berdo’a agar ada seseorang yang mampu mengobatinya. Virus PTT itu berpotensi di dalam setiap tubuh manusia dan berhati-hatilah dengan gejalanya. Sebaiknya cegah ia sebelum timbul karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Adapun gejalanya adalah : sering memakai pakaian-pakaian yang cerah,  selalu ingin dipuji, merasa diri laksana bidadari yang turun dari kayangan atau serendah-rendahnya merasa seperti artis katakanlah “ Anushka Sharma” . Jadi, seperti itulah gejala PTT (pede tingkat tinggi). Jangan terlalu serius. Hahaha !!
Connect itulah kata-kata yang pantas kuucapkan jika aku bersama dengannya. Walaupun rupa dan berat kami berbeda namun, tak jarang ideologi kami sama contohnya : ketika kami berjalan-jalan ke pantai lalu melihat sebuah pasangan kekasih yang begitu mesra, kami berdua menatap dari kejauhan dengan memandang satu objek yang sama, dan langsung menarik bibir 2 cm secara bersamaan ’ hahahaq... ie teujeut’ itulah spontanitas kata-kata yang keluar ketika kami mendekat. Tak hanya itu, suatu hari aku mengikuti acara dosen yang diadakan di Museum Tsunami bersamanya dan dua orang temanku yang lain, sering aku menyebut kawanku itu dek walaupun mukanya ya seperti orang setengah abad. Tapi, tak mengapa pujian itu dibutuhkan. Baiklah waktu itu adalah hari terakhir aku menyerahkan tugas final radio, aku dengannya beralasan bahwa tidak bisa menyerahkan karena sibuk, padahal aku belum buat sama sekali begitu juga dia dan keempat kawanku yang lain. Lalu, mendengar hal itu dosen yang bersangkutan mulai luluh hatinya dan memberi dispensasi sampai jam 08 pagi teng untuk mengantarkan tugas tersebut. Al hasil malamnya aku dan dia duduk disebuah cafe untuk membuat itu sampai dengan jam 12 malam. Hmmmp melelahkan !!! Keesokan harinya kami semua datang terlambat bahkan molor waktu sampai jam 11 siang “ wah !!! parah banget” itulah yang kami ucapkan berkali-kali. Dan akhirnya sang dosen pun marah dan mengancam untuk tidak menerima tugas kami dan dipastikan nilai kami C. Mendengar hal itu aku dan dia langsung bersama-sama mengeluarkan senjata ajaib andalan yaitu “ tears” atau air mata. Karena asyik berakting akhirnya nangis betul-betulan sampai terisak-isak. Dan dosen itupun memanggil setiap orang yang lewat untuk menyaksikan tangisan kami “ memalukan” akhirnya kami lari ke kamar mandi untuk meneruskan tangisan.
Baik dan salut itu yang tak bisa lepas dari ucapanku, memang tak pernah kujumpai sebelumnya. Sikap baik yang tanpa pamrih itu membuat aku nyaman dan sering kuceritakan ia pada keluargaku. Walaupun berat badannya ia adalah sosok yang ringan tangan dan selalu membantu dalam segala hal, ia selalu mendukung atas apa yang aku inginkan, begitupun aku. Aku selalu mendukung apa yang ia inginkan untuk dicapainya. Aku melihat kesetiaan dia pada saat aku ikut lomba nasyid yang diselenggarakan oleh LDK Ar-Risalah ia rela menemani aku dari latihan sampai penampilanku selesai, bahkan ia meyakiniku “ kamu pemenangnya, aku yakin dan qe harus yakin bahwa qe bakal juara adak han sa meudua ka pasti” dan tak tahunya apa yang ia katakan itu benar adanya, aku mendapat juara 2 dalam ajang itu.
Hal lain yang menyamakan aku dengannya dari segi hobby. Aku suka banget lagu india dan dia juga, tak jarang kami bernyanyi di ruang sampai-sampai membuat kawan-kawanku yang lain harus menutup telinga saking merdunya suara kami. Aku juga suka lagu barat tapi, dia lebih suka. Kami sering nyanyi bareng sampai dia bilang “ ntik malam ke hafal lagu ini ya, biar kita bisa duet” perasaan penyanyi. Adapun lagu-lagu barat kesukaan kami seperti : Give me a reason, granede dll. Wow amazing.
Inilah sepenggal ceritaku bersama si gadis Pidie yang bertempat di Kota Lameu anak Pak AlBa (Ali Basyah) ia sosok yang sangat mencintai keluarga dan sangat termotivasi dengan perjuangan ayahnya. Dan aku bangga pernah berkenalan dengannya, thanks Maya Sari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar